TRADISI UPACARA PANJANG JIMAT
Panjang Jimat Tradisi Maulid Nabi di Keraton Cirebon Sejak zaman Khalifah Sholahudin Al Ayubi 1993 M, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau maulid Nabi kerap di istimewakan. Tujuannya, tidak lain untuk mengenang dan selalu meneladani nabi Muhammad SAW.
Tak heran jika di Cirebon pengaruh tersebut hingga saat ini kental diraskan masyarakat, para pemuka agama yang nota bene berada di tiga keraton Cirebon, Kanoman, Kasepuhan dan Kacirebonan, pada abad ke 15 lalu mengadopsi kegiatan tersebut yang disesuaikan dengan adat keraton yakni digelarnya upacara panjang jimat atau kerap disebut pelal.
PROSESI PANJANG JIMAT
Prosesi panjaProsesi Panjang Jimat diantaranya berisi
arak-arakan nasi tujuh rupa atau Nasi Jimat yang melambangkan hari
kelahiran manusia dari Bangsal Jinem yagn merupakan tempat sultan
bertahta ke masjid atau mushala keraton. Nasi Jimat itu diarak dengan
pengawalan 200 barisan abdi dalem yang membawa symbol-simbol. Barisan
pertama adalah pembawa lilin, yang bermakna penerang. Lalu iring-iringan
pembawa perangkat upacara seperti manggaran, nadan dan jantungan, yang
melambangkan kebesaran dan keagungan. ng jimat diantaranya berisi arak-arakan nasi tujuh rupaArak-arakan ini menuju Langgar Agung (mushala). Di sana, Nasi Jimat Tujuh Rupa itu dibuka berikut sajian makanan lain termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam.
Pengajian dipimpin imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu makanan tadi disantan bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat yang berjubel-jubel di luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar menyentuh tangan PRA Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil menyentuh calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya. Tak heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal keraton.
NGALAP BERKAHMenurut keterangan, peringatan maulud Nabi Muhammad saw merupakan warisan dari kalifah Sholahuddin Al Ayubi, sekitar 700 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Sholahuddin selalu merayakan maulud dengan berbagai upacara yagn berlangsung amrak. Tujuannya agar umat muslim selalu ingat dan meneladani Muhammad. Di Cirebon, Pangeran Cakrabuana mengadopsi perayaan itu dan disesuaikan dengan adapt dan istiadat setempat. Dan sampai sekarang dikenallah apa yang disebut upacara Panjang Jimat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar